Dasar utama daripada kehendak Allah SWT melalui pintu ujian atau musibah yang diberikan-Nya tentu bervariasi. Antara satu individu dengan individu lainnya sangat mungkin berbeda - beda, karena ia ditakar dengan kemapuan hamba-Nya. Beberapa motivasi dibalik musibah itu adalah sebagai berikut :
1. Musibah untuk menguji kualitas keimanan
Dalam hal ini musbiah merupakan cara Allah SWT membedakan orang yang jujur dengan orang yang dusta dalam pengakuan imannya. Setiap orang boleh saja mengatakan, "Aku beriman." Setelah diuji oleh Allah SWT. Jika ia bersabar dan teguh, maka ia berarti jujur dalam imannya, dalam arti kualitas keimanannya adalah iman yang benar. Namun, jika ia tidak sabar dan bahkan menyimpang serta berpaling dari agamanya tatkala mendapat ujian, maka ia berarti tengah dusta dalam pengakuannya. Dengan begitu, kualitas imannya palsu.
2. Musibah untuk menghapus dosa - dosa sekaligus meningkatkan kualitas hidup
Musibah diturunkan oleh Allah SWT kepada kita sebagai hukuman atas dosa - dosa yang kita perbuat. Oleh karenanya, jika musibah itu telah ditimpakan kepada kita, dosa kita yang menumpuk akan segera terhapus dan tidak akan dibawa ke alam akhirat. Tentu hal itu jika manusia mampu melewati ujian itu dengan sabar, tawakkal dan ikhlas, serta selalu mengharap pertolongan dari-Nya. Inilah salah satu hikmah terbesar dari sebuah ujian.
Disisi lain musibah juga bertujuan untuk meningkatkan kualitas kehidupan kita, karena dengan musibah itu kita dapat menambah pahala kita melalui taubat yang kita tempuh. Inilah moment yang tepat untuk mengumpulkan pahala.
Dengan pintu musibah, jika ditempuh dengan sabar dan kemudian memperbanyak istighfar, dosa - dosa dapat terhapuskan. Jadi, dapat disimpulkan bahwa ujian hidup dan musibah itu sejatinya dapat menambah pahala kita dan mempercepat kita menuju ke surga-Nya Allah SWT. Jika cara pandang seperti ini yang kita bangun dalam setiap musibah yang kita alami, maka musibah tersebut akan terasa nikmat.
3. Musibah diberikan karena Allah SWT ingin menaikkan derajat hamba-Nya
Sesungguhnya ujian dari Allah SWT terhadap manusia yang berupa kesedihan, kesulitan, kecemasan, dan bencana juga bisa menjadi nikmat. Sebab, boleh jadi ujian - ujian tersebut merupakan cara Allah SWT dalam mengangkat derajatnya. Tentu hal itu dapat diraih jika pada saat mereka ditimpa musibah - musibah tersebut ridha dan sabar.
3. Musibah diberikan karena Allah SWT ingin menaikkan derajat hamba-hamba-Nya
Sesungguhnya ujian Allah SWT terhadap manusia yang berupa kesedihan, kesulitan, kecemasan, dan bencana juga bisa menjadi nikmat. Sebab, boleh jadi ujian-ujian tersebut merupakan cara Allah SWT dalam mengangkat derajatnya. Tentu hal itu dapat diraih jika pada saat mereka ditimpa musibah - musibah tersebut ridha dan sabar.
Rasulullah SAW bersabda :
Tidaklah seorang mukmin terkena duri dan lebih dari itu melainkan Allah mengangkat derajat dengannya, atau dihapuskan kesalahannya dengannya."(HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Oleh karenanya, dalam konteks ini, wajar jika musibah tidak hanya menimpa orang - orang yang sering berbuat dosa saja kepada - Nya, tetapi juga orang - orang yang beriman. Sebab itulah cara Allah SWT mengangkat derajat seseorang. Allah SWT tidak mau mengangkat derajat hamba - hamba - Nya secara instant, tanpa melalui ujian dan cobaan terlebih dahulu. Allah SWT ingin melihat kualitas seorang hamba secara nyata. Bagaimana ia memberikan respon jika Allah SWT mengujinya dengan kepahitan hidup. Namun, bila musibah tersebut melanda orang - orang kafir, maka tidak mungkin Allah SWT mengangkat derajatnya. Musibah ditimpakan kepada mereka, agar bisa menjadi pelajaran dan peringatan bagi yang lain., sehingga mereka beriman dan hijrah kepada Allah SWT.
4. Musibah diberikan Allah SWT untuk membuat hamba - hamba - Nya tidak sombong, mau berserah diri, dan minta tolong kepada - Nya.
Jika seorang mukmin mendapatkan musibah, ia akan segera menyadari kesalahan - kesalahannya, segera bertaubat dan tidak selalu menyombongkan diri. Ia segera berserah diri, mengadu, dan meminta tolong kepada Allah SWT. Ia menyadari bahwa hanya Allah SWT satu - satunya yang memiliki kekuatan mengangkat musibah yang menimpanya dan menolong orang - orang yang kesusahan jika mereka memohon kepada - Nya.
5. Musibah dan cobaan diberikan Allah SWT untuk membuat hamba - hamba - Nya lebih mengetahui kebesaran dan keagungan nikmat - Nya.
Manusia seringkali mengidap "penyakit lupa diri". Penyakit ini biasa menimpa hidup orang - orang yang datar - datar saja, lempeng, alias jarang mendapatkan musibah dan ujian hidup, Mereka lupa akan Allah SWT, lupa bahwa kenikmatan hidup yang dirasakan datang atas kehendak Allah SWT.
Oleh karenanya, bersyukurlah mereka yang diuji dengan penyakit, karena seseorang tidak akan merasakan nikmatnya sehat kecuali bila ia sudah merasakan sakit. Seseorang tidak akan merasakan nikmatnya sempat (waktu luang) jika ia tidak merasakan kesibukan terlebih dahulu.
Rasulullah SAW, bersabda :
"Ada dua waktu yang banyak manusia tertipu, yaitu nikmat sehat dan waktu senggang."(HR.Al-Bukhari).
Orang - orang yang menghadapi musibah dengan pintu terbaik, mereka langsung berlari kepada Allah SWT. Mereka lalu mencoba mengevaluasi diri, membaca dosa - dosa yang telah diperbuatnya, sehingga musibah mengantarkan mereka pada pintu taubat. Mereka juga duduk bersimpuh dihadapan Allah SWT untuk memohon pertolongan-Nya. Jika langkah terbaik ini yang ditempuh, maka keberadaan musibah bukan membuat orang terpuruk, tetapi kehidupan mereka semakin baik, dan semakin dekat dengan Allah SWT.

Comments
Post a Comment